Gengsi

 Gengsi, apaAn tuch..??
Gengsi memang sering dikaitkan dengan hal-hal yang berbau materi atau bersifat sementara. Kalau remaja biasanya dikaitkan dengan pakaian yang lagi mode, lagu yang lagi hit, tempat nongkrong yang popular dsb. Dari sepatu hingga jepit rambut, pokoknya jangna sampai tidak punya atau ketinggalan zaman. Orang tua pun kadang ama aja. Kalau ada anak orang lain pakai barang A, ya anaknya jangan sampai kalah dari itu. Semua ingin unggul atau paling tidak gag kalah dengan orang lain.
Kalau gengsi itu berkaitan dengan ilmu pengetahuan, norma atau sesuatu yang bernilai positif, gag ada masalah. Repotnya, gengsi di masyarakat kita memang lebih banyak terlihat sebagai “tidak mau kalah” dalam hal yan berbau harta dan benda. Gengsi yang bersifat materi itu muaranya adalah “kesombongan”. Gengsi salah kaprah seperti ini berbahaya, karena pada khirnya akan mempengaruhi perilaku seseorang menjadi negative

 Gengsi di tengah kita

Secara umum munculnya budaya gengsi di masyarakat kita, mungkin karena kita lama terjajah. Penjajahan membuat bangsa kita miskin dan bodoh, tidak berpendidikan dan tidak punya apa-apa. Kita dibodohi selama 350 tahun dan kekayaan negei kita dikuras untuk memperkaya negeri penjajah.
Coba saja di zaman penjajahan barang seperti radio dan sepeda saja sudah termasuk barang supermewah bagi penduduk asil Negara kita. Begitu pula dalam hal pekerjaan, menjadi tukang sapu di kantor pemerntahan Belanda sudah termasuk hebat bagi orang kita di masa itu. Bayangkan, radio, sepeda dan menjadi tukang sapu saja kita sudah anggap luar biasa. Betapa miskin dan bodohnya, tetapi begitulah kenyataannya.
Saat itu bangsa kita hanya bias menonton, merasa kagum dan iri. Tidak punya dan tidak tau apa-apa. Hanyabisa minder melihat Belanda dkk (dan kawan-kawan,red). Ingin bisa, ingin memiliki, tetapi apa daya mereka Cuma rakyat terjajah. Karena itulah, begitu bangsa Indonesia merdeka, meledaklah keinginan yan terpendam itu. Semua berebut, berusaha mengambil alih dan menikmati apa yang tadinya dimiliki penjajah. Kemiskinan dan kebodohan di masa lalu membuat bangsa kita haus harta dan kedudukan. Kenyataan ini mungkin hanya salah satu dari sekian seba munculnya “budaya gengsi” di tengah masyarakat kita. Sebab dominan atau bukan, nyatanya gejala ingin jadi pejabat dan memiliki perangkat hidup bergengsi masih berlangsung hingga sekarang.