catatan harian (diary)
Catatan harian ato diary, termasuk barang yang akrab dengan kehidupan remaja, terutama para cewek. Memiliki, mengisi dan menyimpan diary-nya dengan baik. Kadang diary itu terkesab amat disayang bahkan dirahasiakan. Salahkah itu? Jelas egak. Malah sebenarnya perlu digalakkan. Sebab dalam kebiasaan ini ada berbagai manfaat yang selama ini kurang disadari semua orang.
Kerajinan mengisi catatan harian ini, terkadang sampai melebihi kerajinan mengulang pelajaran. Perawatannya terkadang melebihi perawatan terhadap pakaian. Ada yang di simpan di laci khusus, ada ynag paki kunci segala. Begitulah berharganya diary itu, sehingga tidak sembarang orang diperbolehkan mengintip. Bahkan ada semacam “kode etik”, mengintip catatan harian orang laintidak baik, tidak menghargai privacy.
Jangan kaget, ada orang yang memang lebih percaya “curhat” kepada catatan harian ketimabang ke ortu, saudara, temen bahkan pacar. Persolan yang dihadapi tidak diberitau kepada siapa pun, Cuma kepada lembar-lembar buku catatan harian nya. Agak aneh mungkin, tapi memang begitulah nyatanya.
Berbagai gaya
Selain menjadi barang yang sangat berharga, diary memang sering menjadi semacam “kembaran” atau gambaran kepribadian si pemilik. Kalau si yang punya tertutup, buku hariannya pun tertutup. Kalau si pemilik cengeng, diary-nya pun bernada cengeng. Kalau yang punya seorang yang peka terhadap masalah social, isi diary-nya pun banyak berisi pemikiran dan masalah sosial.
Lain orang, lain pula diary-nya. Tidak hanya bentuk, tetapi juga gaya dan waktu pengisiannya. Ada diary yang benar-benar jadi catatan harian, maksudnya benar-benar diisi tiap hari tentnag kejadian pada hari itu. Ada pula ynag diisi pada hari-hari tertentu saja, jika ada kejadian yang menarik atu di anggap penting.
Gaya penulisan pun begitu. Ada yang mengisi catatan harian dengan gaya penulisan mirip esai, setengah bercerita dan setengah menganalisa atau member pendapat. Ada juga yang mengisi catatan hariannya dalam gaya bahasa hiperbola, seperti menulis fiksi.
Keanekaragaman bentuk buku, waktu pengisian, materi isi dan gaya bahasa ini tentu saja sah-sah saja. Sebab, bagaimanapun tradaisi membuat catatan harian pada intinya tak lebih dari sebuah upaya mengabadikan kejadian penting atau yang berkesan.
Namun, ada hal yang menarik dari kebebasan ini. Mau tidak mau, diary ini pada khirnya menunjukkan bobot kepribadian seseorang. Kalau kita amati lebih dalam, diary pada akhirnya bukan lagi sekedar pengabdian momen kehidupan, melainkan juga sebagai cerminan kemampuan berfikir si pemilik.
Sekarang, apakah kamu memiliki kebiasaan menulis diary? Dan masuk tipe manakah catatan harian mu? Berisi pemikiran tentang masalah-masalah di luar dirimu atau hanya berisi pengalaman sehari-hari?
Lepas dari kesukaan dan kebiasaan masing-masing, kayaknya perlu juga kita merenungkan kemungkinan membuat catatan harian. Gag ada salahnya jika penulisan diary itu kita jadikan sebagai arena melatih perasaan dan pemikiran kita serta mengabadikan momen-momen penting yang telah terjadi dalam kehidupan kita. Suatu saat, bila kita membuka-buka kembali lembaran catatan harian itu, kita kan melihat diri kita dalam proses yang lebih lengkap. Kita kan melihat diri kita di tengah-tengah kejadian-kejadian, di tengah-tengah perjalanan waktu dan di tengah perkembangan wawasan fikiran kita. Dan dari sana kita bisa belajar banyak hal.
Memang, boleh jadi pemikiran yang kita abadikan itu terasa menggelikan bagi kita saat 4,5 atau 10 tahun mendatang. Tidak apa, gag usah malu, justu itu menunjukkan bahwa kita mengalami perubahan atau perkembangan dari waktu ke waktu. Bahwa kita menjalani proses berfikir, proses pendewasaan.
Kerajinan mengisi catatan harian ini, terkadang sampai melebihi kerajinan mengulang pelajaran. Perawatannya terkadang melebihi perawatan terhadap pakaian. Ada yang di simpan di laci khusus, ada ynag paki kunci segala. Begitulah berharganya diary itu, sehingga tidak sembarang orang diperbolehkan mengintip. Bahkan ada semacam “kode etik”, mengintip catatan harian orang laintidak baik, tidak menghargai privacy.
Jangan kaget, ada orang yang memang lebih percaya “curhat” kepada catatan harian ketimabang ke ortu, saudara, temen bahkan pacar. Persolan yang dihadapi tidak diberitau kepada siapa pun, Cuma kepada lembar-lembar buku catatan harian nya. Agak aneh mungkin, tapi memang begitulah nyatanya.
Berbagai gaya
Selain menjadi barang yang sangat berharga, diary memang sering menjadi semacam “kembaran” atau gambaran kepribadian si pemilik. Kalau si yang punya tertutup, buku hariannya pun tertutup. Kalau si pemilik cengeng, diary-nya pun bernada cengeng. Kalau yang punya seorang yang peka terhadap masalah social, isi diary-nya pun banyak berisi pemikiran dan masalah sosial.
Lain orang, lain pula diary-nya. Tidak hanya bentuk, tetapi juga gaya dan waktu pengisiannya. Ada diary yang benar-benar jadi catatan harian, maksudnya benar-benar diisi tiap hari tentnag kejadian pada hari itu. Ada pula ynag diisi pada hari-hari tertentu saja, jika ada kejadian yang menarik atu di anggap penting.
Gaya penulisan pun begitu. Ada yang mengisi catatan harian dengan gaya penulisan mirip esai, setengah bercerita dan setengah menganalisa atau member pendapat. Ada juga yang mengisi catatan hariannya dalam gaya bahasa hiperbola, seperti menulis fiksi.
Keanekaragaman bentuk buku, waktu pengisian, materi isi dan gaya bahasa ini tentu saja sah-sah saja. Sebab, bagaimanapun tradaisi membuat catatan harian pada intinya tak lebih dari sebuah upaya mengabadikan kejadian penting atau yang berkesan.
Namun, ada hal yang menarik dari kebebasan ini. Mau tidak mau, diary ini pada khirnya menunjukkan bobot kepribadian seseorang. Kalau kita amati lebih dalam, diary pada akhirnya bukan lagi sekedar pengabdian momen kehidupan, melainkan juga sebagai cerminan kemampuan berfikir si pemilik.
Sekarang, apakah kamu memiliki kebiasaan menulis diary? Dan masuk tipe manakah catatan harian mu? Berisi pemikiran tentang masalah-masalah di luar dirimu atau hanya berisi pengalaman sehari-hari?
Lepas dari kesukaan dan kebiasaan masing-masing, kayaknya perlu juga kita merenungkan kemungkinan membuat catatan harian. Gag ada salahnya jika penulisan diary itu kita jadikan sebagai arena melatih perasaan dan pemikiran kita serta mengabadikan momen-momen penting yang telah terjadi dalam kehidupan kita. Suatu saat, bila kita membuka-buka kembali lembaran catatan harian itu, kita kan melihat diri kita dalam proses yang lebih lengkap. Kita kan melihat diri kita di tengah-tengah kejadian-kejadian, di tengah-tengah perjalanan waktu dan di tengah perkembangan wawasan fikiran kita. Dan dari sana kita bisa belajar banyak hal.
Memang, boleh jadi pemikiran yang kita abadikan itu terasa menggelikan bagi kita saat 4,5 atau 10 tahun mendatang. Tidak apa, gag usah malu, justu itu menunjukkan bahwa kita mengalami perubahan atau perkembangan dari waktu ke waktu. Bahwa kita menjalani proses berfikir, proses pendewasaan.
Langganan:
Postingan (Atom)


